logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.
loading...

Remember : War of the Son Episode 18

Remember : War of the Son Episode 17 Part 1 dan Part 2

Jin Woo menjadi pengacara pembela Dong Hoo. Ketika membahas tentang alat bukti pembunuhan, Jin Woo teringat pada kasus ayahnya. Alzaimer Jin Woo kumat dan membuat semuanya bingung. Merasa ada yang tidak beres, Suk Kyu pun menunda peradilannya. 


Di luar ruang persidangan, In Ah menanyakan keadaan Jin Woo, apakah dia bisa meneruskan persidangan. Jin Woo menjawab kalau gejala penyakitnya hanya timbul sebentar dan sekarang dia merasa baik-baik saja. 

Jin Woo kemudian menemui Dong Hoo dan mengaku padanya kalau dia punya penyakit alzaimer. Dia juga menyerahkan semuanya pada Dong Hoo, kalau Dong Hoo mau mencari pengacara lain, Jin Woo tak keberatan. Namun Dong Hoo tidak mau, karena hanya Jin Woo yang percaya padanya, jadi dia meminta Jin Woo memabantunya sampai akhir. 

Pengacara Hong menemui Gyu Man dan menceritakan tentang keanehan Jin Woo di persidangan. Mendengar itu, Gyu Man langsung menebak-nebak kalau Jin Woo punya penyakit yang sama seperti ayahnya. Untuk memastikan hal itu, Gyu Man menyuruh Soo Bum untuk mencari tahunya. 

Persidangan dilanjutkan, Jaksa penuntut menghadirkan saksi. Saksi itu adalah salah satu anak buah Presdir Suk dan dia mengaku kalau dia pernah melihat Presdir SUk dan Dong Hoo bertengkar. Mendengar itu, Dong Ho pun teringat pada pertengkarannya dengan Persdir Suk, dimana Dong Ho saat itu berkata kalau dia tidak mau memanggil Presdir Suk dengan sebutan "Hyung-nim " lagi.


Saksi ke dua yang dibawa Jaksa Penuntut adalah Detektif Bae, dia adalah orang yang menangkap Dong Ho dan menemukan bukti senjata pembunuhan di kantornya. Jin Woo lalu menunjukkan foto jari tangan Presdir SUk, dimana pada kukunya terlihat ada noda darah dan itu membuktikan kalau pada saat ditusuk, Presdir Suk mencoba membela diri dengan melukai si pembunuh. Tapi pada kenyataannya, di tubuh Dong Ho tidak ada luka sedikit pun. Mendengar penjelasan Jin Woo detektif Bae tak bisa menjawabnya. 

Saat ditanya bagaimana bisa detektif Bae menjadikan tersangka pada percobaan pembunuhan itu, detektif Bae menjawab kalau dia tahu dari black box. Karena di video rekaman itu hanya ada Dong Ho yang tertangkap kamera sedang bersama Presdir Suk, maka dia menyimpulkan secara logika kalau Dong Ho lah yang membunuh Presdir Suk. 

Jin Woo tersenyum mengejek mendengar penjelasan detektif Bae. Dia kemudian memutar kembali video-nya dan disana terlihat jelas kalau Presdir Suk di serang sesudah Dong Ho pergi. Karena setelah Dong Ho pergi, video bergoncang dan itu pasti karena Presdir Suk mencoba membela diri. 

Jin Woo kemudian menanyakannya pada detektif Bae tentang kemungkinan itu. Kemungkinan tentang saat kamera terguncang adalah saat penyerangan. Detektif Bae terdiam sejenak dan akhirnya dia menjawab,"mungkin saja".

Jin Woo lalu beralih pada Suk Kyu dan menyatakan kalau tak ada bukti yang menyatakan Dong Ho bersalah karena semua bukti itu adalah bukti tak langsung. Video hanya memperlihatkan kalau Dong Ho bertemu dengan Presdir Suk dan pada pisau juga tidak ada sidik jarinya Dong Ho. 

Jin Woo menambahkan kalau Dong Ho di hukum dengan bukti tidak langsung dan hanya atas dasar spekulasi, maka akan membuat DOng Ho dan keluarganya menderita. 

Pengacara Hong menemui Ketua Nam dan Ketua Nam mengatakan ketidaksukaannya karena Presdir Suk masih hidup. Ketua Nam takut, kalau Presdir Suk sadar dan membeberkan semua kejahatannya. Diapun menyuruh Pengacara Hong untuk mengurusnya. 


Jin Woo sedang bersama Sang Ho. Jin Woo mengatakan kalau pihaknya dan jaksa penuntut sama-sama hanya punya bukti tidak langsung sehingga hal itu tidak bisa diandalkan untuk menyelamatkan Dong Ho. Solusi untuk menyelamatkan Dong Ho adalah mereka harus menemukan penjahat yang sebenarnya. Jin Woo kemudian bertanya apa Sang Ho mencurigai seseorang dan Sang Ho menjawab kalau dia mencurigai satu orang. Mendengar itu Jin Woo langsung merencanakan sesuatu.


Soo Bum memberikan catatan medis Jin Woo dan disana tertulis kalau Jin Woo benar-benar mengidap alzaimer. Tentu saja mengetahui hal itu membuat Jin Woo senang. 

Jin Woo menemui anak buah Presdir Suk yang masih bisa diajak kerja sama. Jin Woo meminta bantuannya untuk menjebak si pembunuh. Tanpa menunggu lama, pria itu pun beraksi. Dia memberitahu kedua temannya yang berjaga di depan pintu kamar Presdir Suk kalau Presdir Suk sudah sadar. 

Di balik dinding, ada seorang pria yang mendengar pembicaraan mereka. Pria itu langung menelpon Ketua Nam dan memberitahukan kabar tentang Presdir Suk yang siuman. Tak mau Presdir Suk membongkar kebenaran tentang siapa yang mencoba membunuhnya, Ketua Nam pun menyuruh pria itu untuk membunuh Presdir Suk. ]

Seorang pria berpakaian serba hitam dan juga memakai masker, masuk ke kamar Presdir Suk. Dia membuka tabung oksigen Presdir Suk. Betapa terkejutnya pria itu saat menyadari kalau pria yang sedang berbaring itu bukanlah Presdir SUk, melainkan Sang Ho. Jin Woo masuk dan pria itu menghunuskan pisaunya. 

Persidangan akan segera di mulai dan Dong Ho sudah dibawa masuk ke ruang persidangan. Dia terlihat bingung kenapa Jin Woo belum juga datang.

Pria itu hendak menyerang Jin Woo. Untung saja polisi cepat masuk dan melumpuhkan pria itu. Pria itu kemudian dibawa polisi dan Jin Woo pergi ke persidangan.


Suk Kyu sudah memasuki ruang persidangan, namun Jin Woo belum juga datang. Saat Suk Kyu bertanya pada Dong Ho tentang keberadaan Jin Woo, Dong Ho dengan yakin menjawab kalau Jin Woo akan datang sebentar lagi.


Tak lama kemudian Jin Woo muncul dan Suk Kyu menanyakan alasan keterlambatannya. Namun Jin Woo tak langsung menjawabnya, dia hanya berkata kalau jawaban yang Suk Kyu inginkan akan segera di jawab oleh Jaksa Jo. Seseorang masuk dan memberikan secarik kertas pada Jaksa Jo. 

Setelah membaca catatan di kertas itu, Jaksa Jo lalu memberitahu Suk Kyu kalau pembunuh yang sebenarnya sudah tertangkap jadi tuntutan pada Dong Ho dicabut. Ya, Dong Ho pun di bebaskan.


Semua orang sudah pergi dari ruang persidangan, namun Jin Woo dan Dong Ho masih berada di sana. Dong Ho kemudian mengucapkan terima kasih atas bantuan Jin Woo dan bingung harus membalas budinya itu dengan apa. Jin Woo menjawab kalau Dong Ho tak perlu membalas budi, karena dia tidak akan menghapus hutang Dong Ho itu.

Jin Woo lalu bertanya apa yang Dong Ho rasakan sekarang dan Dong Ho menjawab kalau berada di bangku terdakwa membuatnya berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Namun dia bisa duduk dengan tenang karena ada Jin Woo di sampingnya dan berjuang untuknya. Dong Ho kemudian berjanji kalau dia akan membantu Jin Woo sampai akhir. Jin Woo pun memberitahunya kalau dia akan melakukan sidang ulang lagi untuk kasus ayahnya, karena dia tak bisa menunggu lama. 

Jin Woo menemui detektif Bae dan memperlihatkan bukti kalau detektif Bae menerima uang dari Ketua Nam. Walaupun sudah terbukti menerima suap, detektif Bae tetap menutupi kesalahan Ketua Nam yang mencoba membunuhPresdir Suk. 


Dong Ho dan Sang Ho menemui Presdir Suk. Presdir Suk secara perlahan membuka matanya. Dia kemudian berkata kalau dia bertahan sampai sekarang karena ingin melihat Dong Ho sebelum dia pergi. Tentu saja Dong Ho tak mau Presdir Suk pergi, dia mengingatkan Presdir Suk yang ingin menjadi pendamping di pernikahan Dong Ho.


Presdir Suk lalu mengepalkan tangannya dan mengajak Dong Ho tos. Setelah mereka melakukan tos, kondisi Presdir Suk semakin memburuk dan diapun menghembuskan nafas terakhir. Sebelum benar-benar pergi, Presdir Suk sempat meminta maaf pada Dong Ho. 


Presdir Suk meninggal. Tak banyak orang yang datang berbela sungkawa kesana. Dong Ho sendiri sedang duduk di depan makam sambil melihat CD yang berisi video pengakuan Gyu Man. 


Flashback!
Presdir Suk berada di ruang kerja  Dong Ho. Dia merasa menyesal sudah membuat Dong Ho menjadi pengacara, karena saat menjadi gengster, Presdir Suk beranggapan kalau hukum punya kekuatan dan kekuasaan lebih tinggi daripada kepalan tangan. Tapi sekarang dia baru menyadari kalau uang lah yang punya kekuatan dan kekuasaan darpada hukum. Dia juga berucap kalau ia punya hadiah untuk Dong Ho sebelum dia pergi.

Flasback End!


Jin Woo datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Presdir Suk dan kemudian dia bicara berdua dengan Dong Ho. Jin Woo memberikan bukti penyuapan yang di lakukan Ketua Nam pada detektif Bae dan Jin Woo berkata akan menggunakan bukti itu untuk menangkap detektif Bae. Namun Dong Ho tidak mau, karena dia ingin membalas dendam dengan cara kekerasan. Mata dibayar mata  dan nyawa dibayar nyawa.

Tak mau Dong Ho melakukan hal-hal yang diluar kendali, Jin Woo pun mengingatkannya kalau dia adalah seorang pengacara jadi dia harus menyelesaikan semuanya dengan hukum. Euum.. untung Dong Ho punya rekan seperti Jin Woo, kalau tidak dia bisa jadi gengster dan membalas dendam secara membabi buta pada Ketua Nam.

Di meja kerjanya, Jin Woo mempersiapkan berkas-berkas untuk mengajukan persidangan ulang kasus kematian Jung Ah. Dia memasukkan berkas permohonannya ke dalam amplop dan kemudia dia melihat foto dirinya dan sang ayah.


Gyu Man sedang melakukan rapat, saat Soo Bum masuk dan memberitahunya kalau Dong Ho sudah bebas dan persidangan ulang kasus Jung Ah kembali di ajukan. Mendengar kedua kabar itu, membuat tensi Gyu Man naik. Dia emosi di depan orang-orang yang sedang rapat dengannya, bahkan saking emosinya, Gyu Man juga sampai mengusir mereka semua. Setelah semuanya pergi, Gyu Man lalu menyuruh Soo Bum untuk menyiapkan mobil karena dia ingin menemui Jin WOo.


Dong Ho menemui Ketua Nam di rumahnya dan bertanya berapa orang lagi yang akan Ketua Nam bunuh seperti dia membunuh Presdir Suk dan ayah Dong Ho. Dengan santai, Ketua Nam menjawab kalau itulah caranya menjalankan sebuah perusahaan besar, mereka harus mengorbankan hal-hal yang kecil untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Ketua Nam berpendapat kalau apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan semua orang.

Tentu saja Dong Ho tak setuju dengan apa yang Ketua Nam katakan, karena selama ini apa yang Ketua Nam lakukan bukan untuk kebaikan semua orang, dia hanya memanfaatkan orang-orang yang tak berdaya dan setelah orang itu tak bisa dipakai lagi, maka dia akan membuangnya. Sebelum pergi Dong Ho berkata agar Ketua Nam siap-siap karena dia akan menuai akibat dari apa yang selama ini dia lakukan. Setelah Dong Ho pergi, Ketua nam langsung menelpon seseorang yang bernama Tuan Jang.


Gyu Man sekarang sudah berada di kantor Jin Woo dan dia mengejek Jin Woo karena terkena alzaimer. Gyu Man senang karena dia pikir, Jin Woo akan segera melupakan dirinya. Tak mau kalah Jin Woo balik mengejek Gyu Man karena dengan sikapnya yang emosian, dia jadi tak bisa mempercayai siapa-siapa. Di kasihani oleh Jin Woo, Gyu Man tak terima dan langsung emosi lagi.

Jin Woo pun semakin memancing emosi Gyu Man dengan menyuruhnya untuk menilai sendiri, apakah masih ada orang yang bisa dia percaya di sekelilingnya. Jin Woo juga berjanji akan menyeret Gyu Man ke penjara sebelum dia kehilangan semua ingatannya.


Detektif Bae menemui Dong Ho di kantornya, tentu saja Dong Ho langsung emosi melihatnya. Detektif Bae kemudian mengatakan alasan dia mengkhianati Dong Ho, semua itu karena dia membutuhkan biaya pengobatan untuk ayahnya. Agar Dong Ho mau memaafkannya, detektif Bae pun memberitahukan keberadaan Presdir Ha yang ternyata tidak di kirim ke luar negeri.

Pengacara Hong memberitahu Gyu Man kalau Jin Woo berhasil mengajukan sidang ulang karena membawa bukti pengakuan Detektif Gwak. Karena tak bisa menghabisi detektif Gwak yang berada di penjara, Gyu Man pun menyuruh Pengacara Hong untuk melakukan sesuatu dan Pengacara Hong hanya menjawab akan melakukan yang terbaik. Mendengar itu, Gyu Man langsung menyindir kalau akhir-akhir ini Pengacara Hong hanya banyak bicara dan tidak bertindak.


Pengacara Hong sekarang sudah berada di ruangan Ketua Nam bersama Jaksa Tak. Ketua Nam menegur Pengacara Hong yang tak bisa menangani Jaksa Chae. Jaksa Tak kemudian memberi usul agar mereka mengganti Jaksa Chae sebagai jaksa penuntut di persidangan kasas Ha Young kalau Pengacara Hong kerepotan menghadapinya. Mendengar Jaksa Tak seperti meremehkannya, Pengacara Hong pun langsung menatap marah ke arahnya.

Ketua Nam lalu bertanya apa Jaksa Tak sudah mempersiapkan pengganti Jaksa Chae dan Jaksa Tak mengiyakannya. Dia menambahkan kalau dia sudah menemukan Jaksa yang sesuai keinginan Ketua Nam.


Gyu Man memanggil seorang dokter untuk memeriksa tekanan darahnya. Dia mengeluh kalau akhir-akhir ini dia sering sekali marah-marah. Dokter pun menjelaskan kalau penyebab seseorang marah adalah yang pertama karena menurut kata hati dan yang kedua karena kebiasaan. Dan untuk kasus Gyu Man, dia punya keduanya. Sehingga dokter menyarankan agar Gyu Man menghindari tempat-tempat yang bisa membuatnya marah dan mulai berpikir dari sudut pandang orang lain.

Mendengar kalau dia harus berpikir dari sudut pandang Jin Woo, Gyu Man pun langsung emosi dan membentak si dokter. Saking emosinya, Gyu Man sampai mencekik si dokter. Untungnya Soo Bum cepat datang dan melepaskan cekikan Gyu Man. Terlepas dari Gyu Man, si dokter langsung kabur keluar ruangan.

Kita beralih lagi ke ruangan Ketua Nam, dimana Jaksa Jang sudah datang bersama dua rekannya. Secara blak-blakan Ketua Nam meminta bantuan Jaksa Jang agar membantunya dalam persidangan Gyu Man. Sebagai suap untuk Jaksa Jang, Ketua Nam memberikan teh asli dari UK yang sangat wangi dan sejumlah uang. Jaksa Tak yang juga berada di sana, terlihat menyunggingkan bibirnya. Euum... kayaknya Jaksa Tak masih baik dah, dia terlihat tak senang pada pertemuan itu.


Di luar ruangan, Pengacara Hong mengajak Jaksa Tak untuk mengurus pajak Il Ho Group. Namun Jaksa Tak tidak mau dengan alasan sibuk, jadi pengacara Hong bisa pergi sendirian. Pengacara Hong lalu mengingatkan Jaksa Tak kalau besok ada rapat penting, walaupun begitu Jaksa Tak tetap menolak dan berkata kalau pekerjaan itu adalah keahlian Pengacara Hong. Selain itu pengacara Hong bukanlah atasannya lagi, jadi dia tak bisa menyuruh Jaksa Tak dengan seenaknya.


Dong Ho menemui Presdir Ha di sebuah tempat terpencil. Dia berjanji akan membuat Tuan Ha bisa kembali lagi ke Seoul, namun Presdir Ha menolak karena dia ingin menebus kesalahannya di tempat itu sampai mati. Presdir Ha lalu berkata kalau Dong Ho sangat mirip dengan ayahnya. Mendengar itu, Dong Ho pun bertanya kalau ayahnya itu orang seperti apa. Presdir Ha menjawab kalau dia adalah pria yang akan melakukan apapun demi anaknya, dia tidak mau menjadi seorang pembunuh karena ingin menjadi seorang ayah yang terhormat di mata anaknya. Presdir Ha kemudian berjanji akan bersaksi untuk membantu Dong Ho.


In Ah melihat Jin WOo dan teringat kata-kata dokter yang menjelaskan kalau tak akan lama lagi, Jin Woo akan sulit bangun tidur dan akan susah mengerti perkataan orang lain. Dokter juga memberitahukan kalau Jin Woo akan sulit bertahan tanpa bantuan orang lain. In Ah kemudian menghampiri Jin Woo dan mengambil gambar kartu namanya dengan ponsel Jin WOo. Dia berkata kalau dia tak mau Jin Woo melupakannya, jadi dia menyimpan gambar kartu namanya itu di ponsel Jin Woo. In Ah lalu mengajak Jin Woo ke restoran orang tuanya untuk mencicipi pizza buatan Ha Young dan Jin Woo setuju.


Mereka kemudian berkumpul dan mencoba pizza buatan Ha Young. Saat mencoba pizza buatan Ha Young, penyakit Jin Woo kambuh dan mengatakan kalau ayahnya pasti suka dengan pizza. Jin Woo masih mengingat kalau ayahnya belum meninggal. Mendengar itu, Ibu In Ah langsung curiga kalau ada sesuatu pada Jin Woo dan diapun minta penjelasan, namun Jin Woo yang tak bisa mengatakan apa-apa langsung memilih pergi. In Ah pun mencoba mengejarnya.

Namun sepertinya In Ah tak berhasil mengejar Jin Woo karena sekarang Jin Woo sudah berada di dalam mobilnya dan pergi ke suatu tempat. In Ah menelpon tapi tak diangkat oleh Jin Woo.


Orang tua In Ah meminta penjelasan dari In Ah dan In Ah pun tak bisa menutupi tentang fakta alzaimer yang di derita Jin Woo. Sang Ibu terlihat tak setuju jika In Ah terus bersama dengan Jin Woo. Namun In Ah tetap pada pendiriannya, karena Jin Woo sangat membutuhkannya sekarang.


Gyu Man menyuruh Soo Bum untuk mencari cara agar persidangan ulang itu dibatalkan, namun Soo Bum tidak mau. Dia malah meminta agar Gyu Man menyerahkan diri. Tentu saja permintaan itu malah membuat Gyu Man emosi dan ingin memukul Soo Bum dengan stick golf. Namun kali ini, Soo Bum melakukan perlawanan, dia menangkap stick golf yang hendak di pukulkan padanya.


"Aku tidak punya alasan untuk dipukul, dan mulai sekarang aku tidak mau lagi membersihkan kebusukanmu. Kau bersihkan saja sendiri, brengsek!" ucap Soo Bum marah dan keluar ruangan Gyu Man.


Di kantor, semua panik karena Jin Woo tak diketahui keberadaannya. Jae Ik juga tak menemukan Jin Woo di rumah lamanya. Di tengah kepanikan mereka, Suk Kyu muncul.

Karena perlawanan yang dilakukan Soo Bum, Gyu Man pun mulai berpikir dan curiga padanya. Dia kemudian teringat pada sms yang di dapat Soo Bum tentang "potongan bukti", dan menyambungkannya pada kata-kata Suk Kyu yang membahas tentang pembuka wine. Mengingat semua itu, Gyu Man pun bisa menebak kalau Soo Bum sudah menyerahkan pembuka wine itu pada Suk Kyu dan itu membuatnya sangat marah.


Gyu Man lalu memanggil seorang pria kepercayaan ayahnya dan meminta pria itu untuk melakukan sesuatu untuknya. Kita kemudian melihat Soo Bum sudah di sekap di sebuah ruangan kosong dan gelap.

Gyu Man muncul dan mengatakan kalau dia sudah tahu semua yang Soo Bum lakukan, termasuk Soo Bum yang sudah memesan tiket penerbangan untuk kabur. Gyu Man lalu mengancam akan membunuh Soo Bum, kalau dia tak mengambil kembali pembuka wine yang sekarang sudah ada di tangan Jin Woo. Dia memberi Soo Bum waktu berpikir sampai besok.

Kita beralih pada Suk Kyu yang sedang berbicara dengan In Ah. Suk Kyu bertanya tentang keadaan Jin Woo karena sebelumnya dia terlihat tidak baik, In Ah pun berbohong dan mengatakan kalau Jin Woo baik-baik saja. Suk Kyu kemudian membahas tentang sidang trial yang Jin Woo ajukan, Suk Kyu berjanji akan membantu mereka. In Ah juga berjanji akan menggunakan bukti kuat yang Suk Kyu berikan dengan baik.

Manager Yeon muncul dengan membawa foto Jin Woo dan ayahnya, dia memberitahu In Ah kalau Jin Woo pernah berkata ingin ke tempat itu lagi. Jadi menurut Manager Yeon, Jin Woo pergi kesana. Mendengar itu, In Ah langsung bergegas pergi setelah meminta maaf pada Suk Kyu karena dia harus pergi.


Jin Woo sudah berada di tempat yang pernah dia kunjungi bersama ayahnya. Di tempat itu ada sebuah pohon yang digantungi kartu-kartu bertuliskan pengharapan. Euum kayaknya itu tempat yang sama  dengan tempat yang ada di drama "Angel Eyes". Jin Woo kemudian membaca kartu pengharapan milik ayahnya. Di kartu itu, sang ayah menulis rasa syukurnya karena punya anak yang membahagiakan seperti Jin Woo, dia juga menulis pengharapan agar mereka berdua selalu membuat kenangan-kenangan yang indah.


In Ah sampai di tempat itu dan mereka kemudian bicara berdua. Jin Woo meminta In Ah meninggalkannya, karena dia tak mau membuat In Ah menderita, baik karena penyakitnya juga karena permasalahannya dengan In Ho Group. Tentu saja In Ah tidak mau. In Ah mengaku kalau hatinya sakit setiap kali melihat Jin Woo menderita dan dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Dia meminta agar Jin Woo tak menyendiri lagi dan mengadapi semuanya bersama. Jin Woo kemudian mendekati In Ah dan menciumnya.


Jin Woo menangis dan berkata kalau dia tak punya banyak waktu untuk mengingat wajah dan nama In Ah. Mendengar itu In Ah pun ikut menangis dan berkata tak apa-apa karena dia yang akan menjadi ingatan JIn WOo.

Gyu Man makan sendirian dan dia teringat pada ucapan Jin Woo yang berkata kalau dia tak punya siapa-siapa yang bisa dia percaya.


Gyu Man kemudian menemui adiknya yang juga sedang makan sendiri, dia memberikan tiket ke Perancis untuk Yeo Kyung dan meminta belajar melukis disana. Tentu saja Yeo Kyung tak mau dan berkata kalau ayah pasti tidak setuju. Dengan santai, Gyu Man memberitahu Yeo Kyung kalau ua itu adalah perintah ayah mereka. Mendengar itu, mata Yeo Kyung langsung berkaca-kaca tak percaya.


Yeo Kyung lalu menemui In Ah dan Jin Woo. Dia mengaku kalau dia bisa mengerti kenapa Jin Woo melakukan semua itu pada keluarganya, dia juga mengaku kalau dia sudah mengetahui semuanya. Yeo Kyung kemudian meminta maaf pada mereka atas nama kakaknya, walaupun dia tahu permintaan maafnya itu sudah sangat terlambat.

In Ah lalu meminta Yeo Kyung untuk menyuruh Gyu Man menyerahkan diri. Yeo Kyung tak bisa menjawab permintaan itu dan diapun meneteskan air matanya.

Gyu Man bertanya pada Pengacara Hong, tentang Jaksa persidangan Ha Young akan diganti dan Pengacara Hong membenarkannya. Setelah mengetahui kalau Jaksa Tak yang mengusahakan hal tersebut, Gyu Man pun berencana akan memberinya hadiah.


Kita beralih pada Jaksa Tak yang menemui kepala Jaksa dan membahas tentang Ketua Nam yang ingin Jaksa Chae diganti untuk persidangan Gyu Man. Jaksa Tak kemudian mengaku kalau tugasnya di Il Ho Group akan segera berakhir... Hmmm.... maksudnya apa nih?


Flashback!
Saat Jin Woo dan In Ah memberikan rekaman tentang Gyu Man yang melakukan pesta narkoba, Jaksa Tak berkata kalau bukti itu tidak akan cukup untuk mereka memenjarakan Gyu Man. Jin Woo dans In Ah membenarkan, karena itu mereka punya rencana lain. Mereka meminta Jaksa Tak untuk bekerja pada In Ho Group. Euum... pantesan... In Ho dan Jin Woo tak terlalu kecawa dan marah saat tahu Jaksa Tak bekerja pada Il Ho Group saat itu.

Flashback End!

Jaksa Tak lalu memberitahu Jaksa Kepala kalau Jaksa yang akan menggantikan Jaksa Chae adalah jaksa yang jujur dan punya keyakinan lurus. Saat ditanya siapa Jaksa itu, Jaksa Tak hanya tersenyum.


Dong Ho menemui Jin Woo di kantornya dan bertanya apa Jin Woo punya bukti yang kuat untuk persidangan kali ini, agar Gyu Man tidak bisa mengelak lagi. Jin Woo lalu memberitahu kalau dia sudah menembukan alat bukti pembunuhan Gyu Man, dimana ada darah Jung Ah dan sidik jari Gyu Man disana. Dong Ho pun lega mendengarnya dan dia sangat yakin, kali ini mereka bisa menjatuhkan Il Ho Group. Dia juga berjanji akan selalu membantu Jin Woo.

Berita tentang persidangan ulang kasus Jung Ah disiarkan. Karena pengajuan sidang sudah di setujui, maka mereka harus menentukan langkah berikutnya. JIn Woo lalu mengembalikan CD yang berisi rekaman pengakuan Gyu Man dan berkata kalau rekaman itu tidak akan berguna di persidangan, sebab rekaman itu di ambil secara ilegal. Namun, rekaman itu sangat berguna jika dipublikasikan di luar persidangan. Dong Ho pun setuju dengan ide Jin Woo untuk menyebarkan video itu agar semua orang melihat. Dengan bantuan spammer, mereka menyebarkan video itu.


Dalam sekejap, video itu menyebar dan dilihat semua orang dan mereka pun mulai membicarakannya.

Tuan Nam dan Pengacara Hong sedang bersama Jaksa Tak, karena Jaksa Tak berjanji akan mempertemukan mereka dengan Jaksa pengganti Jaksa Chae. Sebelum jaksa yang dimaksud datang, Pengacara Hong mendapat telepon yang mengatakan kalau video pengakuan Gyu Man sudah tersebar.

Di kantornya, Gyu Man sedang melihat video itu. Tentu saja hal itu membuatnya sangat emosi, sampai-sampai dia membanting laptopnya dan menginjak-injaknya. Dia juga terus memaki nama Jin Woo.


Tepat disaat itu, Jin Woo muncul dan bertanya apa Gyu Man sudah melihat video yang dia kirim. Dengan penuh emosi, Gyu Man mengiyakannya dan juga berkata kalau Jin Woo akan mati. Jin Woo pun hanya tersenyum melihat kemarahan Gyu Man.


Kita beralih lagi ke restoran tempat Ketua Nam berada. Dia kemudian di beritahu oleh Pengacara Hong, tentang video pengakuan Gyu Man yang sudah tersebar dimana-mana. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut dan dia semakin terkejut saat melihat Jaksa yang Jaksa Tak bawa adalah In Ah.

Wuah... Ending episode 18 memang daebak.. hehehe...gak sabar mau nonton episode 19, tapi sekarang belum keluar sub-nya.

NB:
"Akhirnya selesai juga tugasku nge recap drama Remember dan untuk dua episode terakhir akan di tulis oleh Mbak Putri dan Mbak Dee."

Thaks yang sudah mau baca sinopsis remember di blog saya, walau sering terlambat dalam mempostingnya.. Kamshamida ^^

Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

loading...
Copyright © 2013. Drama Populer - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger